Erupsi Gunung Anak Krakatau, 32.415 Warga Lampung Selatan Terdampak Abu Vulkanik

LAMPUNG SELATAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan melaporkan perkembangan kondisi kesehatan masyarakat menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau. Hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 15.00 WIB, sebanyak 16 dari 28 puskesmas telah menyampaikan laporan terkait dampak erupsi.

 

Laporan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan, Devi Arminanto, sebagai bagian dari pemantauan dan penanganan dampak erupsi di wilayah Kabupaten Lampung Selatan.

 

Sebanyak 16 puskesmas yang telah melaporkan kondisi wilayah dan masyarakat terdampak, yakni Puskesmas Branti Raya, Karang Anyar, Kaliasin, Talang Jawa, Katibung, Candipuro, Way Urang, Ketapang, Sukadamai, Banjar Agung, Tanjung Sari, Tanjung Agung, Way Sulan, Way Panji, Bumi Daya dan Bakauheni.

 

146 Desa Terdampak

 

Dalam laporan tersebut disebutkan, berdasarkan data dari 16 puskesmas, tercatat sebanyak 146 desa terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

 

Status Gunung Anak Krakatau saat laporan dibuat berada pada Level III atau Siaga.

 

Kondisi akses jalan masih tembus, namun abu vulkanik dengan intensitas sedang hingga tebal dilaporkan mengganggu jarak pandang kendaraan sekaligus berpotensi mengganggu pernapasan masyarakat.

 

Dari wilayah yang telah melaporkan, tercatat 32.415 jiwa terdampak. Meski demikian, hingga laporan dibuat belum terdapat warga yang mengungsi.

 

Total pengungsi tercatat 0 jiwa atau 0 kepala keluarga. Masyarakat juga belum tercatat mengungsi ke posko, lapangan desa maupun lokasi evakuasi lainnya.

 

Kelompok Rentan Turut Dipantau

 

Dinas Kesehatan juga melakukan pendataan terhadap kelompok masyarakat rentan yang terdampak.

 

Data sementara yang dilaporkan meliputi 247 balita, 14 ibu hamil/ibu menyusui, 217 lansia dan 7 penyandang disabilitas.

 

Dinas Kesehatan menyebut data kelompok rentan tersebut masih merupakan data awal dari laporan yang masuk, salah satunya dari Puskesmas Tanjung Agung.

 

Belum Ada Laporan Kasus Kesehatan

 

Dari sisi pelayanan kesehatan, hingga pukul 15.00 WIB belum terdapat laporan kunjungan pasien terkait dampak erupsi dari 16 puskesmas yang telah menyampaikan laporan.

 

Begitu pula dengan tiga kasus yang menjadi perhatian dalam kondisi erupsi, yakni ISPA, iritasi mata dan dermatitis atau gangguan kulit, semuanya masih tercatat 0 kasus.

 

Sementara itu, jumlah pasien yang dirujuk juga masih 0 pasien.

 

Dinas Kesehatan menegaskan data pelayanan kesehatan tersebut masih menunggu laporan lebih lanjut dari seluruh puskesmas yang telah melakukan pelayanan di wilayah terdampak.

 

Stok Masker dan Obat Dipantau

 

Untuk mendukung penanganan dampak abu vulkanik, Dinas Kesehatan juga memantau ketersediaan bahan medis habis pakai (BMHP) dan obat-obatan vital.

 

Dari laporan 16 puskesmas, stok yang tersedia antara lain 3.361 box masker bedah, 290 box masker N95, 562 botol tetes mata steril, 850 box/100 obat ISPA dan Ventolin, 2.532 kasa serta 440 botol cairan NaCl.

 

Namun, pembagian masker dan perlengkapan kesehatan secara masif kepada masyarakat membuat sejumlah stok mulai menipis.

 

Selain itu, kendala lain di lapangan berupa abu vulkanik sedang hingga tebal yang membatasi pandangan kendaraan saat petugas melakukan kunjungan ke masyarakat terdampak. Pasokan air bersih juga masih minim di sejumlah wilayah.

 

Puskesmas Terus Lakukan Pelayanan dan Edukasi

 

Sebagai langkah penanganan, puskesmas melakukan pelayanan kesehatan melalui poskesdes dan pustu.

 

Petugas juga membagikan masker sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan alat pelindung diri (PPE) sederhana. Kegiatan tersebut dilakukan bersama camat dan kapolsek di wilayah kerja masing-masing puskesmas.

 

Selain itu, puskesmas terus berkoordinasi dengan lurah dan camat untuk memperbarui data masyarakat terdampak, khususnya kelompok rentan.

 

Dinkes Butuh Tambahan Masker dan Tetes Mata

 

Mengantisipasi kebutuhan masyarakat terdampak, Dinas Kesehatan Lampung Selatan mencatat kebutuhan mendesak berdasarkan permintaan dari 16 puskesmas.

 

Kebutuhan tersebut meliputi 8.780 box masker bedah dan 5.005 botol tetes mata steril.

 

Kebutuhan tambahan tersebut diperlukan untuk mendukung pelayanan kesehatan sekaligus perlindungan masyarakat dari paparan abu vulkanik.

 

Dinas Kesehatan Lampung Selatan memastikan pemantauan kondisi masyarakat dan pelayanan kesehatan terus dilakukan, sementara data dampak erupsi masih akan diperbarui seiring masuknya laporan dari puskesmas lainnya.

 

(iwoi Lamsel)

LAMPUNG SELATAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan melaporkan perkembangan kondisi kesehatan masyarakat menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau. Hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 15.00 WIB, sebanyak 16 dari 28 puskesmas telah menyampaikan laporan terkait dampak erupsi.

Laporan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan, Devi Arminanto, sebagai bagian dari pemantauan dan penanganan dampak erupsi di wilayah Kabupaten Lampung Selatan.

Sebanyak 16 puskesmas yang telah melaporkan kondisi wilayah dan masyarakat terdampak, yakni Puskesmas Branti Raya, Karang Anyar, Kaliasin, Talang Jawa, Katibung, Candipuro, Way Urang, Ketapang, Sukadamai, Banjar Agung, Tanjung Sari, Tanjung Agung, Way Sulan, Way Panji, Bumi Daya dan Bakauheni.

146 Desa Terdampak

Dalam laporan tersebut disebutkan, berdasarkan data dari 16 puskesmas, tercatat sebanyak 146 desa terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

Status Gunung Anak Krakatau saat laporan dibuat berada pada Level III atau Siaga.

Kondisi akses jalan masih tembus, namun abu vulkanik dengan intensitas sedang hingga tebal dilaporkan mengganggu jarak pandang kendaraan sekaligus berpotensi mengganggu pernapasan masyarakat.

Dari wilayah yang telah melaporkan, tercatat 32.415 jiwa terdampak. Meski demikian, hingga laporan dibuat belum terdapat warga yang mengungsi.

Total pengungsi tercatat 0 jiwa atau 0 kepala keluarga. Masyarakat juga belum tercatat mengungsi ke posko, lapangan desa maupun lokasi evakuasi lainnya.

Kelompok Rentan Turut Dipantau

Dinas Kesehatan juga melakukan pendataan terhadap kelompok masyarakat rentan yang terdampak.

Data sementara yang dilaporkan meliputi 247 balita, 14 ibu hamil/ibu menyusui, 217 lansia dan 7 penyandang disabilitas.

Dinas Kesehatan menyebut data kelompok rentan tersebut masih merupakan data awal dari laporan yang masuk, salah satunya dari Puskesmas Tanjung Agung.

Belum Ada Laporan Kasus Kesehatan

Dari sisi pelayanan kesehatan, hingga pukul 15.00 WIB belum terdapat laporan kunjungan pasien terkait dampak erupsi dari 16 puskesmas yang telah menyampaikan laporan.

Begitu pula dengan tiga kasus yang menjadi perhatian dalam kondisi erupsi, yakni ISPA, iritasi mata dan dermatitis atau gangguan kulit, semuanya masih tercatat 0 kasus.

Sementara itu, jumlah pasien yang dirujuk juga masih 0 pasien.

Dinas Kesehatan menegaskan data pelayanan kesehatan tersebut masih menunggu laporan lebih lanjut dari seluruh puskesmas yang telah melakukan pelayanan di wilayah terdampak.

Persediaan Masker Masih Aman

Untuk mendukung penanganan dampak abu vulkanik, Dinas Kesehatan juga terus memantau ketersediaan bahan medis habis pakai (BMHP) dan obat-obatan vital di sejumlah puskesmas.

Berdasarkan laporan dari 16 puskesmas, saat ini tersedia 3.361 box masker bedah, 290 box masker N95, 562 botol tetes mata steril, 850 box/100 obat ISPA dan Ventolin, 2.532 kasa serta 440 botol cairan NaCl.

Sejauh ini, persediaan masker masih dalam kondisi aman untuk mendukung kebutuhan penanganan masyarakat terdampak. Meski demikian, pemantauan stok tetap dilakukan karena pembagian masker kepada masyarakat terus berlangsung seiring adanya paparan abu vulkanik.

Dinas Kesehatan juga mengantisipasi kebutuhan tambahan agar ketersediaan perlengkapan kesehatan tetap terjaga apabila dampak erupsi berlanjut.

Selain persoalan abu vulkanik, kendala lain di lapangan berupa abu dengan intensitas sedang hingga tebal yang membatasi pandangan kendaraan saat petugas melakukan kunjungan ke masyarakat terdampak. Pasokan air bersih juga masih minim di sejumlah wilayah.

Puskesmas Terus Lakukan Pelayanan dan Edukasi

Sebagai langkah penanganan, puskesmas melakukan pelayanan kesehatan melalui poskesdes dan pustu.

Petugas juga membagikan masker sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan alat pelindung diri (PPE) sederhana. Kegiatan tersebut dilakukan bersama camat dan kapolsek di wilayah kerja masing-masing puskesmas.

Selain itu, puskesmas terus berkoordinasi dengan lurah dan camat untuk memperbarui data masyarakat terdampak, khususnya kelompok rentan.

Dinkes Butuh Tambahan Masker dan Tetes Mata

Mengantisipasi kebutuhan masyarakat terdampak, Dinas Kesehatan Lampung Selatan mencatat kebutuhan mendesak berdasarkan permintaan dari 16 puskesmas.

Kebutuhan tambahan tersebut meliputi 8.780 box masker bedah dan 5.005 botol tetes mata steril.

Permintaan tambahan ini merupakan langkah antisipasi untuk memastikan pelayanan kesehatan dan perlindungan masyarakat tetap berjalan optimal, meskipun stok masker yang tersedia saat ini masih aman.

Dinas Kesehatan Lampung Selatan memastikan pemantauan kondisi masyarakat dan pelayanan kesehatan terus dilakukan. Data dampak erupsi juga masih akan diperbarui seiring masuknya laporan dari puskesmas lainnya.

(iwoi Lamsel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *